Login

 

 
 

Artikel: Mata Air Panas - Gunung Pancar

 

 artikelgalerilokasiforum

 


[navigasi.net] Mata Air Panas - Gunung Pancar
Lokasi wisata Gunung Pancar dari kejauhan

Telah dilihat: 50740x

Penulis

:

  Halomoan Gultom

Referensi

:

-

 

Lokasi

:

Karangtengah;Citeureup;Bogor

Koordinat GPS

:

S6.586070 - E106.913750

Ketinggian

:

516 m

Fotografer

:

Silhouette

 

 

 

 

 

Tanggapan: 0 

 

 

Galeri: 8 

 


Jika kita hendak menuju lokasi Gunung Pancar, pastilah akan melalui sebuah desa bernama Sumurbatu. Di desa ini, sepanjang perjalanan akan banyak dijumpai batu-batu kali yang telah siap untuk digunakan sebagai pondasi rumah/bangunan. Sepertinya pekerjaan mengolah batu kali sudah menjadi mata pencaharian utama penduduk setempat, mengingat didaerah ini banyak sekali batu-batu besar yang berserakan, terutama didaerah sungai. Semoga hal ini juga bukan menjadi alasan mengapa jalan aspal di desa ini lebih layak disebut jalan berbatu karena secara keseluruhan jalan yang ada hanya menyisakan bebatuan yang cukup menghambat perjalanan.

Namun bukan hal ini yang menyebabkan penulis bertandang kedaerah ini. Tujuan utama perjalanan kali ini adalah menuju ke objek air panas yang terletak dilokasi wisata gunung pancar. Konon air panas yang berada didaerah ini tidak berbau belerang yang menusuk hidung dan bisa menyembuhkan berbagi penyakit kulit maupun rematik.


[navigasi.net] Mata Air Panas - Gunung Pancar
Kawasan hutan pinus yang berada di areal wisata Gunung pancar

Selepas dari Desa Sumurbatu memasuki wilayah wisata Gunung Pancar, perjalanan menjadi lebih menyenangkan karena berada di dalam kawasan hutan pinus. Tiket masuk ke wilayah ini ditetapkan Rp. 1.000 perorang, sepeda motor Rp 1.000 dan Rp. 2.000 untuk kendaraan roda empat. Lokasi pemandian air panas terletak tidak jauh dari tempat pembayaran ini dan untuk memasuki lokasi tersebut masih dikenai biaya lagi sebesar Rp. 5.000/orang dan Rp. 3.000/mobil

Sepertinya kali ini banyak yang berkunjung ke objek ini, terlihat dari areal parkir yang mulai penuh dengan berbagai jenis mobil. Serombongan orang paruh baya tampak keluar dari sebuah mobil minibus dan langsung menuju tempat pemandian. Tampaknya mereka sudah biasa berkunjung ketempat ini, nampak jelas dari langkah yang pasti menyusuri jalan-jalan yang ada disana.

Diareal ini, sama sekali tidak terlihat aliran air atau pancaran air panas. Semua air yang digunakan untuk pemandian langsung dialirkan melalui pipa-pipa paralon ke bilik-bilik yang telah disediakan. Untuk berendam secara gratis bisa dilakukan di sebuah kolam kecil berukuran 2x2 meter di sebuah tempat terbuka dan itu berarti akan bercampur baur dengan pengunjung lainnya. Bila menginginkan secara lebih privacy, bisa dilakukan dengan menyewa bilik-bilik yang telah sediakan dimana didalamnya terdapat sebuah tempat tidur sederhana dan sebuah kamar mandi dengan bak rendam yang selalu dialiri air panas terus menerus. Tidak tercium aroma belerang dilokasi ini seperti apa yang umum terjadi pemandian air panas lainnya. Suatu hal yang menunjukkan bahwa panas yang timbul bukan dikarenakan unsur sulfur (belerang), tapi murni berasal dari panas bumi.


[navigasi.net] Mata Air Panas - Gunung Pancar
Seorang pengunjung yang sedang merendam badan, menikmati kehangatan (?) air panas

Pengobatan alternatif dengan menggunakan air panas juga tersedia di lokasi ini. Diperlukan biaya sebesar 20.000 rupiah untuk menikmatinya. Metode yang digunakan bisa dibilang menggunakan metode totokan atau pijatan, namun bukan tangan yang digunakan untuk memijat melainkan sebuah aliran air yang mengalir dari sebuah selang yang disemprotkan langsung ketubuh pasien dengan tekanan cukup tinggi. Tidak jarang terdengan erangan dari mulut pasien bila daerah yang disemprot adalah daerah yang bermasalah dengan suatu penyakit tertentu.

Dibagian perendaman umum telah terdapat empat orang separuh baya yang sedang berendam dan saling berbagi cerita. Tertarik untuk mencoba merasakan suhu air yang ada, penulis mencoba merendam kaki ke dalam kolam tersebut, namun baru telapak kaki mulai menyentuh permukaan, panas yang terasa cukup menyengat dan secara reflek menarik kaki kembali dengan muka meringis menahan panas.

"Kalau berendam langsung masukkan kaki ke dalam air dan jangan digerak-gerakkan lagi biar rasa panas tidak begitu menyegat" nasehat salah seorang pengunjung sambil tersenyum dengan kaki yang telah terendam hingga sebetis, entah telah berapa lama.

Penasaran juga mendengarnya dan setelah beberapa kali coba akhirnya penulis memberanikan diri  untuk memasukkan kaki ke kolam tersebut sambil berdiri tegak. Dan memang benar meskipun masih terasa panas, namun tidaklah begitu menyegat. Tidak sampai satu menit bertahan, kakipun diangkat dan warna kulit telah berubah menjadi merah muda mirip warna udang rebus :) Salah seorang pengunjung, dengan santainya berbaring didasar kolam tersebut dengan posisi kaki yang masih berada ditepian kolam. Lama juga dia berendam dan nampaknya menikmati suhu yang ada.

"Kalau berbaring seperti ini, sangat baik untuk menghilangkan rematik atau pegal-pegal disekitar pinggang dan punggung" ujarnya. Menarik sekali untuk dicoba, tapi kalau kaki saja sudah tidak sanggup menahan panas, mungkin mesti pikir-pikir dulu sebelum mencoba metode ini

navigasi.net 2003 - 2014