Login

 

 
 

Artikel: Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon

 

 artikelgalerilokasiforum

 


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon
Seekor ular phyton yang sedang tidur bergelandutan di pohon mangrove yang menjorok kesungai

Telah dilihat: 14172x

Penulis

:

  mfda

Referensi

:

mfda.web.id

 

Lokasi

:

-;Sumur;Pandeglang

Koordinat GPS

:

S6.756583 - E105.340215

Ketinggian

:

10 m

Fotografer

:

mfda

 

 

 

 

 

Tanggapan: 0 

 

 

Galeri: 9 

 



[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon
Sepasang rusa yang terlihat di tepi pantai merupakan salah satu jenis komunitas Taman Nasional Ujung Kulon
Ujung Kulon terletak diprovinsi Banten, tepatnya diujung barat bagian selatan, dengan luas areal -/+ sebesar 1.350 kilometer persegi, termasuk beberapa pulau seperti pulau Pucang, Panaitan dan Handeuleum. Areal Ujung Kulon telah diproteksi sejak zaman Belanda ditahun 1921 dan secara resmi merupakan Taman Nasional sejak tahun 1980. Disamping Banteng (Bos Javanicus), beberapa reptilia dan burung-burung, primadona Ujung Kulon adalah Badak bercula satu (Javan Rhinoceros) yang diperkirakan hanya sekitar 65 ekor yang tersisa ditaman nasional Ujung Kulon.

Ujung Kulon dapat dicapai dari Jakarta dengan melalui jalan tol Jakarta – Merak, exit Anyer/Carita, langsung kearah selatan, Labuhan (S6.586944-E105.858889) terus sampai Sumur (S6.839722-E105.835833). Perjalanan sejauh 240 kilometer, ditempuh dalam waktu 4 jam, dengan kecepatan wajar. Kondisi jalan cukup baik, kecuali disekitar pabrik Krakatau Steel yang rusak cukup parah. Perjalanan terberat adalah ruas Sumur – Taman Jaya, sejauh 20 kilometer yang ditempuh dalam waktu 2 jam, jadi bisa dibayang bagaimana kondisi jalannya: indescribable! Hanya bisa ditempuh dengan kendaraan SUV 4X4!


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon
Segerombolan sapi hutan yang juga merupakan 'penduduk asli' komunitas Taman Nasional Ujung Kulon

Sebenarnya, ada alternative lain dan kita tidak perlu menempuh ruas Sumur – Taman Jaya, cukup menuju Logon Umang (S6.730000-E105.624444) dan menuju Ujung Kulon melalui pulau Umang Resort, sekitar 5 kilometer dari Sumur.

Disaat berjuang melalui jalan yang rusak parah, ditengah-tengah perjalanan, tepatnya didesa Cisaat (S6.767500-E105.600556) saya melihat gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang masih cukup terpelihara dengan tulisan: Hibah dari Pemerintah Belanda. Hartelijk dank Meneer!

Meskipun desa Ujung Jaya adalah desa terakhir untuk menuju Ujung Kulon, baik melalui darat maupun laut, tetapi fasilitas didesa Taman Jaya jauh lebih baik dalam hal akomodasi dan ketersediaan supply bahan makanan.

Disamping masyarakat lokal dari ethnik Sunda dan Badui, didesa Taman Jaya ada masyarakat Bugis yang sudah bermukim disana sejak zaman Belanda. Dengan keterbatasan lahan didaerah asalnya, umumnya orang Bugis berlayar mencari teluk dan pesisir diseantero Indonesia dan bermukim disana dengan mempertahankan budaya dan tradisi mereka. Konon ada perpatah Bugis yang mengatakan: Tempat yang terbaik adalah dimana saja selama masih terdengar suara ombak, makanan yang terbaik adalah hasil laut, kendaraan yang terbaik adalah perahu.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon
Tempat penginapan yang tersedia di area ini

Masyarakat Bugis didesa Taman Jaya ini rupanya lebih memiliki entrepreneurship sehingga secara ekonomis mereka jauh lebih baik. Banyak diantara mereka yang menjadi “juragan ikan.

Sampai didesa Taman Jaya setelah melalui jalan yang rusak parah, 20 kilometer selama 2 jam, saya bersyukur melihat akomodasi yang disediakan: bungalow yang asri dan sangat bersih, kamar dengan fasilitas AC dan kamar mandinya dengan fasilitas air panas/dingin. Ruangan tamu yang sangat luas dan pemandangan diteras kearah teluk Ujung Kulon yang sangat menyejukkan. Bungalow ini berdiri ditanah seluas -/+ 1 hektar dan sebagaimana lazimnya kalau ada bangunan mewah ditempat-tempat yang terpencil, pastilah itu milik “orang Jakarta..

Harga kamar Rp 250.000.- semalam, tanpa makan, kecuali teh dan kopi yang disediakan kapan saja kita minta. Suhendi, Minggu dan Sabana para penjaga bungalow, selalu siap membantu kalau diminta tolong untuk melakukan sesuatu. Meskipun listrik “byar-pet sering mati beberapa saat, tetapi tinggal dibungalow ini sangat menyenangkan, apalagi untuk “nyepi atau bermeditasi

Saya  disambut oleh Pak Komar, putra Pak Sakmin Ranger Ujung Kulon  yang membaktikan dirinya pada pelestarian habitat Badak Ujung Kulon. Pak Sakmin muncul dibeberapa film tentang Ujung Kulon, diantaranya film yang dibuat oleh National Geography Society dan beliaupun akrab dengan dignitaries seperti Prince Bernhard dari Belanda dan Prince Charles dari Inggris, sewaktu  mereka mengunjungi Ujung Kulon. Prestasi tertinggi dari almarhum Pak Sakmin adalah sewaktu menerima Kalpataru dari Presiden Suharto ditahun 1981, sebagai penghargaan tertinggi atas personal achievement dan dedikasi pada tugas yang diembannya.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon
Tampak dalam suasana isi kamar dari tempat penginapan

Komar anaknya juga seorang Ranger Ujung Kulon, tetapi agaknya kurang sepakat dengan cara-cara penanganan Taman Nasional Ujung Kulon dan memutuskan untuk berwiraswasta. Komar memiliki “Sunda Jaya Home Stay dan memiliki beberapa perahu dan sebagai pemandu wisata kearea Taman Nasional Ujung Kulon. Dia men-charge turist sebesar Rp 1.800.000.- sehari, maksimal untuk 5 orang dan harga tersebut sudah termasuk: sewa kapal, perijinan dan makan siang.

Saya berangkat dari Taman Jaya kearea Taman Nasional Ujung Kulon dengan Komar, memakai perahu “Perjuangan dengan mesin Mitsubhisi truk yang telah dimodifikasi. Nahkoda perahu adalah Dudi (keturunan Bugis) dengan anak kapal Sarmin  dan Bai. Komar membawa 2 orang ajudan Nono dan Barwani (Ustadz/guru ngaji setempat) dan saya membawa seorang asistant, Benny.

Kita start jam 7.30 pagi menyebrangi teluk Ujung Kulon (Teluk Selamat Datang) menuju pulau Handeuleum. Teluk ini dipenuhi dengan beratus-ratus bagan (tempat menangkap ikan) yang dibuat dari bambu, karena disamping ringan, bambu itu mengapung diair. Bentuknya kurang lebih sama, tetapi ada yang terapung, bisa dipindah-pindahkan adapula yang fix ditanam didasar laut, yang tidak begitu dalam, sekitar 13 s/d 15 meter. Meskipun jumlah bagan ratusan tetapi para pemilik bagan mengetahui persis lokasi bagan mereka.

Pulau  Handeuleum (S6.808611-E105.576944), sebuah Pos Ranger yang hanya dijaga oleh seorang Ranger, Hendra, tepat berada didepan Taman Nasional Ujung Kulon.

Dari Ranger Hendra, kita meminjam canoe agar dapat menyusuri sungai Cigenter, dimana biasanya banyak ular python yang bergelantungan didahan-dahan mangrove.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon

Komar  menasihatkan kalau mengambil foto ular python supaya jangan tepat berada dibawahnya, karena kalau merasa terusik, biasanya ular tersebut menjatuhkan dirinya dan mencebur kesungai untuk menghindar dan tidak jatuh dicanoe. Saya melihat ada seekor ular python kecil yang sedang tidur bergelandutan di pohon mangrove yang menjorok kesungai. Karena ruangan untuk memotret tidak cukup leluasa, saya memutuskan untuk langsung mengambil foto dari bawahnya, saya pikir toh ular pythonnya nggak begitu besar. Disaat klik-klik-klik rupanya siular ini merasa terusik dan secepat kilat dia menjatuhkan dirinya, bukannya kesungai tetapi tepat berada dipangkuan assisten saya Benny. Benny yang nggak pernah menyentuh ular seumur hidupnya, sangat shock dengan kejatuhan ular dan secara instinctive berusaha berdiri, lupa bahwa dia berada diatas canoe yang sangat ramping. Canoe bergoyang liar kekanan dan kekiri, Komar berteriak: “Tenang-tenang, jangan bangun, nggak apa-apa, bukan ular berbisa.. Akhirnya dengan ketenangan dan pengalamannya, Komar dan Nono pembantunya berhasil menstabilkan canoe. Benny terkapar dengan muka yang  pucat pasi dan saya hampir saja kehilangan alat-alat photography yang lumayan harganya.

Sepanjang perjalanan selanjutnya, si-Nonopun tidak henti-hentinya menertawakan Benny

Setelah peristiwa tersebut, saya memutuskan untuk melepas keinginan untuk memotret ular python dan langsung menuju kepulau Peucang (S6.938333-E105.463333). Pulau Peucang seluas -/+ 500 hectar terletak dihidung Taman Nasional Ujung Kulon. Disamping merupakan sebuah Pos Ranger, pulau ini juga disediakan tempat penginapan bagi para turist maupun naturalist (peneliti) yang ingin berkunjung ke-Taman Nasional Ujung Kolon.  Setelah kedatangan Presiden Suharto beberapa tahun yang lalu, beliau meminta supaya kawasan pulau ini ditata dan dibangun lebih bagi, dengan guest house dan sarana yang lebih lengkap. Sabdo Pandito Ratu, maka dibangunlah guest house dengan sarana kamar-kamar ber-AC, air panas/dingin, restauran dll. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bangsa kita ini pandai membangun, tetapi tidak pandai memelihara apa yang telah dibangunnya. Akibatnya, sarana-sarana yang cukup baik itu dibiarkan tidak terpelihara dan keadaannya agak menyedihkan. Restaurant tutup sejak beberapa tahun yang lalu dan guest house tidak bisa dipakai karena listrik nggak ada, solar sudah habis dipakai oleh orang Jakarta yang datang lebih dahulu dari saya.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon

Saya ditawarin untuk mempergunakan guest house lama, dikamar yang dilu pernah dipakai oleh Suharto, dengan lampu petromax/lampu kapal. Guest house dibangun dengan konstruksi bahan kayu dan  kamar ex Pak Harto  agak rapi dengan kamar mandi “gebyar-gebyur dengan WC duduk. Dikamar banyak foto-foto beliau, dengan para tamu-tamu seperti Prince Bernhard dari Belanda dan lain2, bahkan ada foto Suharto dengan Bung Karno. Karena kelelahan, saya tidak mempersoalkan keabsahan klaim bahwa Suharto pernah tidur disitu.

Kita sangat disarankan untuk tidak membuka baik jendela maupun pintu, karena grombolan monyet akan menjarah apa saja yang bisa dipegangnya. Bebas dari jarahan monyet, ternyata snaks bawaan kita yang kita letakan di-living room dijarah oleh tikus-tikus dan saya hanya bisa mendengarkan “party para tikus karena lampu petromax ya  sudah mati dan keadaan gelap gulita.

Perjalanan kita teruskan menuju bagian selatan Ujung Kulon, kepetilasan Sanghiang Sirah, dimana legenda menceritrakan bahwa tempat itu serinbg dipergunakan oleh Prabu Kian Santang dari kerajaan Siliwangi untuk bersemedi. Petilasan ini sampai sekarang masih banyak dikunjungi oleh para peziarah, baik yang tua maupun muda, terutama pada bulan Maulud.

Cuaca rupanya tidak bersahabat, angin semakin kencang, ombak semakin tinggi dan muka Bennypun semakin pucat dan saya memutuskan untuk tunduk pada Mother Nature dan memutuskan berpetualangan ketempat-tempat yang lebih aman.

Kita meneruskan perjalanan menuju ke-Cidaun (S6.913056-E105.385000) yang berada didaratan Ujung Kulon, tepat dimuka pulau Peucang.  Karena kita lupa membawa canoe, maka terpaksa turun dari perahu, mencebur kelaut dan menyebrang kedaratan dengan ketinggian air laut sebatas pinggang. Di-kawasan savannah Cidaun ini ada yang dinamakan “padang gembala, dimana pada sore hari, umumnya grombolan Banteng (Bos Javanicus) berkumpul dan  bersosialisasi. Alhamdulillah kita beruntung menemukan segerombolan Banteng yang sedang berkumpul disekitar kawasan tersebut.

Perjalanan kita lanjutkan menuju pulau Panaitan, seluas 17.000 hectar kesebuah Pos Ranger yang terletak di-Legon Butun (S6.859722-E105.308611) dan tak seorang Rangerpun yang nampak.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Taman Nasional Ujung Kulon

Kita memutuskan untuk menyusuri pulau Panaitan melalui Karang Jajar, sebuah deretan karang yang berjajar yang cukup cantik, tetapi udara berkabut sehingga hasil foto tidak maksimal.

Kita berhenti disebuah lagoon yang tenang dan cantik, namanya Legon Kadam (S6.725556-E105.414722). Saya tidak begitu mengetahui bagaimana Komar dan para awak perahu mempersiapkannya, tetapi makan siang berupa nasi atau mie, lalapan dan goreng kering ikan hasil tangkapan beberapa menit yang lalu, kenikmatannya akan teringat lama sekali. Kita duduk-duduk ngobrol, minum air kelapa sambil menikmati pemandangan Logon Kadam, dimana dari kejauhan nampak para kijang bercanda ria dipantainya. Tiba-tiba saja, terlelap tidur .

Sewaktu terbangun, waktu sudah agak sore dan awanpun sudah agak hitam menandakan akan hujan dan kita langsung memutuskan kembali ke-Taman Jaya. Dalam perjalanan, kita melihat ada life-vest/alat pelampung yang mengapung ditengah laut dan diatasnya ada saegerombolan kepiting yang memanfaatkannya untuk juga ikut mengapung.

Untuk bisa melihat Badak (Javan Rhinoceros), sangat tidak mudah dan kita harus menembus hutan Ujung Kulon (which nearly impenetrable) dengan berjalan kaki dari Ujung Jaya kedaerah Cikesik, Cigenter and Cibunar. Saya sangat menghormati usia saya, maka saya memutuskan untuk tidak men-challenge usia saya tersebut.

Jakarta, 9 June 2006.

navigasi.net 2003 - 2017