Login

 

 
 

Artikel: Flora&Fauna - Salak Turi

 

 artikelgalerilokasiforum

 


[navigasi.net] Flora&Fauna - Salak Turi

Telah dilihat: 5367x

Penulis

:

  AMGD

Referensi

:

-

 

Lokasi

:

Bangunkerto;Turi;Sleman

Koordinat GPS

:

S7.650463 - E110.357894

Ketinggian

:

381 m

Fotografer

:

AMGD

 

 

 

 

 

Tanggapan: 0 

 

 

Galeri: 3 

 


Kota Jogja adalah sebuah potret kota yang cukup lengkap dengan berbagai jenis tempat wisatanya,  mulai dari cagar budaya sampai dengan wisata paling modern pun tersedia disana. Salah satunya adalah Wisata Agro Salak Turi yang merupakan sebuah tempat wisata dengan tampilan Salak Pondohnya yang sudah sangat terkenal manisnya.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Salak Turi

Sebuah tampilan wisata yang berbeda dari Jogja adalah Salak Turi. Selama ini andalan wisata Jogja adalah Borobudur, Prambanan, Keraton, Taman Sari, Malioboro, Parangtritis dan wisata pegunungan Kaliurang. Salak Turi merupakan perkebunan salak yang sangat luas, rasanya memberikan nuansa yang lain ketika kita berkunjung kesana. Konon Salak didaerah ini bibit awalnya ditanam oleh Belanda bersamaan dengan penjajahannya terhadap Indonesia. Kala itu sempat dikembangkan secara masal, namun karena kekalahan Belanda atas Jepang dan dilanjutkan dengan perjuangan bangsa ini dalam menegakkan persatuan dan kesatuan maka terabaikanlah Salak Pondoh ini. Baru kemudian pada tahun 1986 salak ini mulai dikembangkan lagi oleh warga Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Semula pengembangan tanaman ini dilakukan secara alami oleh penduduk setempat, namun karena melihat potensi yang bagus untuk dikembangkan maka dalam hal ini Pemerintah melalui Dinas Pariwisata mengembangkan kawasan ini menjadi sebuah kawasan agrowisata. Pohon salak termasuk pohon yang unik dan sangat menguntungkan, unik karena bentuk buahnya dan model pohonnya, menguntungkan karena selalu berbuah sepanjang tahun asal dilakukan perawatan yang baik terhadap pohonnya. Dalam satu tahun rata-rata Salak Pondoh berbuah 10 kg sampai dengan 15 kg, tergantung dari perawatan khususnya penyerbukan. Jenis pohonnya sendiri ada dua, salak jantan hanya menghasilkan bunga dan salak betina yang menghasilkan buah yang diserbuki oleh bunga salak jantan. Proses penyerbukan ini biasanya dilakukan secara manual ketika bunga sudah mekar. Disinilah seni dari menanam salak kita rasakan, setelah bunga betina diserbuk, kemudian bunganya ditutupi daun agar tidak terkena angin hingga terjadi pembuahan. Untuk ukuran standar kalau penyerbukannya bagus satu tandan buah bisa berisi 20-25 buah salak, kalau tidak bagus biasanya hanya berisi 5 buah. Untuk tumbuh menjadi salak yang siap untuk dimakan salak butuh waktu sekitar 3 bulan hingga mencapai masa panen. Satu kilo Salak Pondoh rata-rata dijual antara Rp 3.000 - Rp 4.000 di perkebunan, bayangkan saja kalau Salak Pondoh dijual di outlet modern harganya bisa menjadi Rp 15.000 - Rp 16.000 / kg.


[navigasi.net] Flora&Fauna - Salak Turi

Karena bisnis yang menggiurkan ini, hampir sebagian besar penduduk di Kecamatan Turi menanam Pohon Salak. Letak Turi yang dilereng Merapi 150m - 200 m dpl dan 25 km ke arah utara dari Kota Jogja menjadikan tempat ini pas untuk tanam salak dan strategis untuk pengembangan usaha dan sekaligus sebagai tempat wisata. Dari kota Jogja hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai tempat ini. Sangat mudah sekali dicapai karena papan petunjuk disetiap perempatan dan pertigaan tertera dengan jelas, dan seandainya nyasar kita bisa bertanya kepada penduduk dan penduduk setempat pasti akan menjawab dengan kromo inggilnya atau Bahasa Indonesia yang masih sedikit medok. Sepanjang perjalanan pun kita tak akan bosan-bosannya disuguhi pemandangan, sawah dan bukit-bukit yang selalu tersenyum menyambut kehadiran para pengunjung. Kedamaian dan ketentraman akan sangat kita rasakan ketika kita melintas desa-desa yang sejuk dan penduduk yang ramah.

Peningkatan ekonomi secara signifikan juga sangat dirasakan oleh penduduk kawasan ini, menurut Pak Harno petugas wisata," dulu itu rumah yang sudah pakai tembok bisa dihitung dengan jari, tapi sekarang keadaan menjadi berbalik, rumah yang tidak pakai tembok bisa dihitung dengan jari, kata Pak Harno disela-sela pembicaraan dengan kami ditengah kebun salak. Peluang-peluang lain tentunya juga dapat dikembangkan disini, misalkan saja penginapan, fasilitas-fasilitas lain tentunya dengan tidak menganggu keseimbangan alam yang sudah ada.

AMGD*

navigasi.net 2003 - 2018