|
KreatifAkuisisi,
(GMT) 03:59:08 Senin, 30 November 2009)
| |
Paging Om Rimon Usman, main-main kesini lagi yah dan sharing lagi deh 
Sepertinya beliau sekarang sudah gapah deh pakai GPS 60 CSX nya tuh, alhasil dari baca manual yang disaranin,baca forum ini,melancong kebeberapa situs GPS lainnya, oprek-oprek dan pijat-pijat GPS nya 
Jalan-jalan kesana kemari dipandu dengan peta navigasi.net.
|
|
Adi DJ,
(GMT) 06:31:35 Senin, 30 November 2009)
| |
Saya mau tanya beneran nih gak becanda ya
Posisi perangkat GPS dianggap nge-lock bila minimal bisa pairing dengan 4 signal satelit. Bener begitu kan ya?
Karena dengan 1 satelit berarti terbentuk bidang bola.
Dengan 2 satelit berarti terbentuk bidang lingkaran (irisan antara dua bola)
Dengan 3 satelit terketahui 2 titik pada lingkaran
Dengan 4 satelit.. ketahuan deh mana titik yang benar.
NAAAHHH pertanyaan nya adalah. koordinat yang tercatat oleh gps sebenarnya kan.. untuk latitude, longitude dan altitude.
Padahal dalam narik garis buat peta, parameter latitude diabaikan (dianggap 0 meter DPL)
Pada saat peta digunakan beneran di lapangan saya kok memang ngerasa pada dataran tinggi lebih susah nge-lock. Tadinya saya pikir karena mendung, Tapi kalau memang melenceng karena perbedaan ketinggian sampai ratusan meter, sangat masuk akal donk ya kalau peta dianggap tidak akurat?
|
|
Boedi,
(GMT) 06:52:32 Senin, 30 November 2009)
| |
Waduh sudah menyangkut WGS dan lain lain....Map Projection...MAp Datum...UTM....Grid....biar yg pada pinter navigasi dan mapping aja deh yg jawab
|
|
Boedi,
(GMT) 07:12:48 Senin, 30 November 2009)
| |
Wah ceritanya panjang ya
|
|
Buyung Akram,
(GMT) 14:47:59 Senin, 30 November 2009)
| |
@Adi DJ:
Data ketinggian peta sama sekali tidak mempengaruhi tingkat keakuratan peta. Satelit GPS hanya memberikan informasi posisi dimana dia berada, dan berdasarkan informasi tersebut perangkat GPS melakukan perhitungan tertentu untuk mengetahui posisi pengguna berada. Bedanya, jika anda berkendaraan dengan suatu kecepatan tertentu (berapapun itu) yang sama saat melintasi daerah perbukitan vs dataran (plate), maka kecepatan bergerak pointer di perangkat GPS anda akan menjadi lebih pelan jika dibandingkan dengan jika anda mengendarai didataran rendah/datar. Hal ini dikarenakan karena sebenarnya anda menempuh jarah yang secara matematis tentunya lebih jauh ketika melewati daerah perbukitan. Tentu anda masih ingat, bahwa sisi miring segitiga siku-siku memiliki jarak terpanjang dibandingkan kedua sisi lainnya. Jarak yang panjang tentunya memerlukan waktu yang lebih lama jika ditempuh dengan menggunakan kecepatan yang sama.
Jadi, sekali lagi, selama kita membuat peta yang akurat, meskipun tidak menyertakan data ketinggian, maka hal itu sama sekali tidak mempengaruhi tingkat keakuratan peta saat melakukan kalkulasi posisi terhadap sinyal Satelit GPS.
|
|
KreatifAkuisisi,
(GMT) 15:52:11 Senin, 30 November 2009)
| |
Wah bahasan yang menarik nih ikutan yah.
Menurutku sih tergantung penggunaan atau aplikasi yang diperlukan, misalkan untuk VTS tentu tidak perlu sampai sinyal dari 4 satelit, mungkin 3 atau bahkan 2 sudah cukup pada saat emergency misalkan, nah klo aplikasi yang dibutuhkan memerlukan data ketinggian tentu perlu lebih banyak lagi sinyal dari satelit.
Seperti yang kita pahami bersama tentunya pada saat satelit-satelit tidak terhalang sama sekali dengan kondisi sangat cerah dan tanpa interferensi yang akan memberikan
akurasi tertinggi.
Akurasi dari posisi sangat terpengaruh beberapa faktor, termasuk posisi dari satelitnya sendiri, noise dari sinyal radio, kondisi atmosfir,dan juga penghalang terhadap sinyal yang bersifat alami.
Awan dan fenomena alam berserta benda seperti gunung dan gedung-gedung yang berada diantara satelit-satelit dengan pesawat penerima sangat mungkin mengahasilkan error
kadang-kadang sampai beberapa puluh meter an.
Dari noise saja bisa menghasilkan kesalahan 1 sampai 10 meter akibat dari sebuah gangguan yang bersifat interferensi statis yang frekuensinya dekat atau hampir sama dengan perangkat penerima GPS.
Alhasil isu akurasi dari sebuah sebuah perangkat penerima GPS tentu sangat ruwet yang mana tentu tidak akan kita dapatkan dari spesifikasi teknis umum masih banyak hal lain seperti maksimum PDOP dimngkinkan,tipe proses (phase atau pseudorange), minimum sinyal yang diperlukan,dsb apalagi kalau kita bicarakan antara akurasi secara horisontal dibanding secara vertikal.
Nah klo soal akurasi peta aku nyerah deh kagak ngerti samasekali, cuma kadang-kadang berasa saja aghhh ini sepertinya kurang akurat sewaktu dilapangan tanpa tahu penyebab sesungguhnya, mungkin dari uraian Om Buyung aku sedikit banyak mulai nangkap sedikit-sedikit dengan yang dimaksud.
|
|
Crazy_doctor,
(GMT) 08:24:02 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
wah ini diskusi berat neh, apalagi udah dua sesepuh turun tangan. sy pengen ikut menambah pertanyaan. kalo nggak salah, peta gps emang (harus) dibuat gepeng (flat) kan ya? soalnya mengikuti garis spheroid yg dipakai oleh wgs84.
seperti kata pak buyung, efek yg kita rasakan, perjalanan nya menjadi lebih lambat pada layar gps. bagi org yg senang (atau terpaksa) sering naik turun gunung, garis-garis ketinggian pada peta topo sangat membantu.
|
|
Adi DJ,
(GMT) 12:30:23 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
wah trims suhu buyung, suhu steve dan suhu doctor untuk pencerahannya 
sekarang jadi lebih ngerti. Jadi soal nge-lock dan tidak nge-lock bukan karena beda ketinggian ya kesimpulannya?
saya cerna dulu pelan pelan.
ntar kalo ada pertanyaan newbie lagi saya posting di sini.
Oya.. yang tadi nanya pertama kali kemana yah? kok ga balik-balik.
|
|
Boedi,
(GMT) 12:57:19 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
Sudah Kabur Mas....
Saya bienew juga...
|
|
KreatifAkuisisi,
(GMT) 13:35:34 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
Judulnya sudah bagus "Ingin Belajar"
Harapannya dia diam-diam belajar, mas-mas semua 
Bagaimana kalau pertanyaannya kita pelintir sedikit yuk, jadi pentingan mana akurasi dari perangkat GPS atau peta yang akurat ?.
Kalau aku pribadi sih pilih "Peta" deh, soalnya tanpa perangkat GPS pun peta kan bisa dipakai, kalau sudah tidak akurat tersesat lah orang,dan kalau GPS lagi kurang akurat atau susah nge lock yah mesem-mesem aja kita...ngandelin peta dan mungkin tanya-tanya orang. 
Coba klo kagak ada peta cuma ada GPS, mungkin kita ambil pohon sebagai patokan dan mulai buat peta ditanah atau keadaan sekliling hehehe.
Tapi diam-diam bumi juga bergeser yah sedkit-sedikit kayaknya, seperti garis pantai?.
Salam.
|
|
Boedi,
(GMT) 13:49:14 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
Dan Peta (mapsource mis.) tanpa GPS juga sudah bisa dipakai...
Kelak Peta Indonesia akan dibuat berdasarkan Peta Navigasi.net....?????
Gimana nggak... lengkap sekali....dari barat sampai timur...
Yang ada sekarang kan beli peta Medan...beli peta Jakarta....beli peta....beli peta ....beli peta...
|
|
KreatifAkuisisi,
(GMT) 14:00:01 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
Udah gitu peta nya agak menyesatkan komplit deh penderiataan, tapi kalau Gtais yah bantuin benerin dunk aghhh...
Google Map tanpa alat GPS berguna dan berarti.
Tapi kalau hari-hariku tanpa GPS yang didalamnya ada peta ...terasa sepi bagaikan jantung tak berdetak...uhuy
|
|
Crazy_doctor,
(GMT) 14:22:28 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
untung saja tehnologi gps termasuk belum lama. bayangkan bila GPS sudah ditemukan jauh lebih awal.
http://www.youtube.com/watch?v=NYbTNFN3NBo
|
|
LatLon,
(GMT) 19:42:28 Selasa, 01 Desember 2009)
| |
Hmm... Pertanyaan Oom Adi DJ benang merahnya "Altitude".
Penjelasan Bos Buyung & Oom Crazy_doctor benang merahnya peta yang diproyeksikan mendatar sesuai WGS84.
Sementara penjelasan Oom KreatifAkuisisi benang merahnya adalah “akurasi peta”
Bingung deh…
Mohon ijin share pengalaman yha…
Profesi saya diantaranya harus menghitung jarak 2 titik secara garis lurus. Untuk itu saya harus mendatangi 2 titik yang dimaksud dengan cara apapun untuk mendapatkan 3 parameter yaitu Latitude dan Longitude serta Altitude.
Nah, untuk mencapai lokasi 2 titik tsb saya menggunakan peta NavNet yang telah terpasang pada GPS saya, juga menggunakan peta topography jika tersedia sebagai referensi altitude.
Untuk mendapatkan ke3 parameter tadi saat di ke2 lokasi tsb diperlukan waktu agak lama untuk mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi. Kadang akurasi 1 atau 2 meter bisa diperoleh, namun akurasi 4 meter sudah cukup (GPSMap 76CSx).
Dengan software khusus (masih menggunakan map datum WGS84) untuk menghitung kedua jarak tadi dimana parameter “Altitude” mutlak diperlukan, diperoleh hasil perhitungan yang tidak significant bedanya dengan perhitungan MapSource (yang mengabaikan altitude) terhadap jaraknya. Umumnya jarak yang saya ukur mulai dari ratusan meter hingga sekitar 60km. Tentu saja dengan proyeksi mendatar dan memanfaatkan rumus pytagoras dimana selisih altitude anggap lah 1000 meter tidak akan berpengaruh besar pada sisi miringnya (jarak yang di ukur) terhadap alas (jarak yang diproyeksikan) yang 60.000 meter.
Question : “Lho! Jarak tempuh antar 2 titik tadi kan tidak garis lurus?! Lalu jarak tempuh sesungguhnya berapa setelah melewati turun/naik lembah? Pastinya akan jauh lebih besar dari 60km!”
Sederhana saja aktifkan track log saat meninggalkan lokasi titik pertama sampai titik ke dua. Lalu download di MapSource maka total jarak tempuh sudah termasuk altitudenya dapat diperoleh.
Question : “Lalu bagaimana anda yakin dengan tingkat akurasi pembacaan 3 parameter di atas?”
Sejauh yang saya baca, GPS yang kita gunakan secara umum memang telah di set kurang akurat untuk pemakaian sipil, kecuali menggunakan GPS khusus (keperluan Geodesi) atau versi militer yang tentu saja harganya tidak bisa diperoleh di bawah 10 juta rupiah. Dengan membandingkan koordinat yang telah diambil secara akurat tadi pada peta Google Earth terdapat selisih sekitar 20 meter! Nah lho! Mana yang benar nih?!
Question : “Jika selisih 20 meter ini berlaku untuk sumbu Latitude dan Longitude (gabungan) lalu berapa selisihnya untuk sumbu altitude?”
Dengan titik yang sama namun di”mark” pada waktu/hari yang berbeda, hasil pencatatan altitude berbeda sangat jauh (pengukuran dilakukan dengan 2 GPS bersamaan; GPSMap 76CSx dan “Garmin 10x”). Sehingga kesimpulannya kita tidak bisa berharap banyak dari hasil pengukuran altitude oleh GPS.
Yang lebih mengejutkan lagi dan baru saya temukan beberapa hari lalu ada di sini :
http://www.indoflyer.net/forum/tm.asp?m=393565&mpage=2
(Baca postingan #22 & #28)
Dalam dunia penerbangan (dimana altitude sangat mutlak diperhitungkan) ternyata hasil pengukuran altitude dari GPS tidak digunakan. Mereka lebih mengacu pada altimeter yang menggunakan prinsip tekanan udara walau selisihnya hingga 2.500 feet atau setara 762 meter!
Jika ingin mengetahui seberapa besar akurasi GPS yang anda miliki, silahkan datang ke lokasi ini : S6.49083 E106.84889. Titik ini adalah titik acuan nasional yang dibuat oleh Bakosurtanal. Meskipun GPS yang saya gunakan saat di lokasi ini menunjukan akurasi 4 meter, namun kenyataannya terdapat selisih 18 meter terhadap kordinat yang tertera!
Pindah topic sekarang pada “Akurasi Peta”.
Kadang saya bingung yang dimaksud dengan akurasi peta NavNet. Sebagai ilustrasi, Jalan bebas hambatan yang satu jalurnya terdiri hingga 4 lajur tergambar hampir sama lebarnya dengan residential street yang hanya muat 1 mobil sehingga jika “Off Road mode = Off” terlihat kita berjalan bukan di jalan seperti pada peta. Selama penunjukan GPS meyakinkan kita mewakili posisi kita sesungguhnya, pada level zoom tertentu Peta NavNet sudah dapat dikatakan akurat toh? Lain halnya jika kita menemukan suatu waypoint yang letaknya berseberangan jalan antara posisi sebenarnya dari yang tertera pada peta NavNet. Segera lapor pada Map Developer Team yha… Jika letak waypoint masih sejajar dengan jalan dan masih dapat ditemukan dengan cepat di lokasi (<30meter) tingkat akurasi peta NavNet bagi saya pribadi sudah sempurna! Toh Waypoint adalah suatu titik yang mewakili semisal sebuah gedung yang memiliki lebar atau panjang lebih dari 30 meter….
Masalah satellites acquisition (GPS keluaran mutakhir yha) sepanjang pengamatan saya tidak berpengaruh pada altitude dan kecepatan (juga cuaca berawan/hujan) GPS berada asal kondisinya “Hot Boot” bukan “Cold Start”, Oom Adi DJ. Yang penting si GPS dapat melihat langit seluas-luasnya. Yang repot itu jika sedang terjadi “Gerhana Satelit” sedangkan posisi GPS kita hanya dapat melihat sedikit langit. Klop deh… Nunggu gerhana satelitnya bubar.
Semoga bermanfaat…
|
|
Boedi,
(GMT) 01:48:47 Rabu, 02 Desember 2009)
| |
GPS etrex saya yg jadul dan gak bisa diisi peta ada fasilitas altimeter yg berdasarkan tekanan udara....tadinya saya pikir dibungkus sarung plastik gak apa apa ternyata ada lubang kecil untuk sensor tekanan udara, makanya kalau dibungkus pengukuran ketinggian salahnya banyak...
Kanapa ya GPS yg akhir akhir ini gak ada fasilitas magnetik kompas seperti etrex...Kan lebih enak...kalau lagi jalan/bergerak dia mengandalkan arah dg GPS dan pada saat berhenti setelah sekian menit (bisa diset) penunjuk arah digantukan magnetik kompas...
Kalau yg sekarang kita berhenti dia gak tau arah...taunya posisi alias koordinat..
YG INI LEBIH OOT LAGI...?
|
|
wahyust1,
(GMT) 05:20:42 Rabu, 02 Desember 2009)
| |
Mau ikutan nambah bingung, soalnya saya juga bingung... biar bisa belajar bareng2 ya... 
Ketinggian suatu tempat itu diukur dari rata-rata muka air laut kan ya? kenapa rata2? ya karena air laut ada pasang dan surut. Tapi ketika dilaut pun catatan altitude GPS biasanya tidak mendekati nol seperti perkiraan... karena GPS mencatat ketinggian relatif terhadap sesuatu/datum. 'Sesuatu' ini konon disebut garis khayal 'GEOID'.
Geoid ditiap tempat berbeda-beda, di Indonesia pakai ID74, dinegara lain tidak akan cocok pakai datum geoid ID74.
Untuk keseragaman dan memudahkan perhitungan matematis (koordinat) dibuat lagi frame garis khayal ellipsoid dengan asumsi bentuk bumi mulus dan ellipsoid sehingga bisa dibagi dalam garis khayal lintang dan bujur yang seragam, katanya garis frame ini disebut datum WGS84 (World Geodetic System 1984).
Posisi koordinat GPS navigasi umumnya mengacu pada datum WGS84, tapi kalau GPS untuk survey sebaiknya pakai datum geoid lokal.
Ada beberapa contoh gambar mengenai datum referensi.
Maaf kalau ada yang salah, mohon dikoreksi.
Salam belajar.
 | |  | |  | | | Ketinggian relatif suatu permukaan | |  | |  |
|
|
wahyust1,
(GMT) 05:28:52 Rabu, 02 Desember 2009)
| |
Menambahkan sedikit:
Posisi koordinat GPS adalah proyeksi dari garis tegak lurus terhadap datum geoid... jadi kalau pakai datum yang beda, maka koordinatnya akan berbeda juga, meskipun hanya berbeda sekian koma derajat, tapi bisa meleset belasan hingga puluhan meter. Silakan dicoba pada GPS yang bisa diset datumnya.
|
|
Buyung Akram,
(GMT) 06:11:28 Rabu, 02 Desember 2009)
| |
@wsetiawan: Saya pernah bahas sedikit tentang DATUM ini di artikel berikut => http://navigasi.net/goart.php?a=augeodes
|
|
Adi DJ,
(GMT) 09:48:37 Rabu, 02 Desember 2009)
| |
MANTAPSS! diskusinya jadi makin daleeemmm 
jadi nambah ilmu banyak sekali nih.
Pak LatLon saya mau nanya: sebenarnya satelit satelit untuk GPS posisinya geostasioner atau muter-muter bisa terbit dan terbenam (kalo diliat dari genteng rumah saya)
|
|
Boedi,
(GMT) 10:12:13 Rabu, 02 Desember 2009)
| |
Pak Satelit yg diatas rumah bisa dilihat disini
http://www.n2yo.com/?k=33
|